Popular Post

Reborn [Part 2]

By : Unknown
Fan Fiction Anime Naruto

Aku tetap yakin, karena aku mengenal Sasuke lebih lama dari siapapun di sekolah kami.

Part 2
Matahari tampak sangat bersahabat pagi ini. Tidak terlalu menyengat, tapi tetap membuatku bersemangat. Sinarnya menerobos celah-celah kecil di antara dedaunan pohon besar yang menaungiku pagi ini. Di sepanjang jalan, deretan pohon besar yang teduh membuat para pejalan kaki merasa sangat nyaman berjalan di trotoar, walaupun petugas kebersihan harus kerja ekstra membersihkan rontokan daun yang seakan tak ada habisnya itu setiap pagi-pagi sekali.
Saat aku mau menyeberang jalan raya, tiba-tiba sudut mataku menangkap kehadiran seseorang tepat di sebelahku. Tanpa menoleh pun aku sudah sangat yakin siapa gerangan yang menjajari langkahku. Diam-diam aku menghela napas lega karena tanpa kehadirannya aku pasti saat ini sedang kalang kabut panik untuk menyeberang –yah, walaupun hanya menunggu lampu hijau lalu berjalan biasa saja di atas zebra cross yang membentang seperti red carpet di hadapanku ini, tapi tetap saja tanganku gemetar bila melakukannya sendiri, membayangkan diriku yang berpostur cukup mungil berjalan di tengah jalan raya besar, ditatap mobil-mobil yang menunggu gilirannya lewat.
“Kenapa tidak menungguku?” tanyanya dengan nada tidak senang.
“Kupikir kau sudah berangkat duluan.” Jawabku jujur. Aku memang berangkat agak telat kali ini.
“Kau tahu aku tak akan pernah meninggalkanmu. Bukankah sudah sering kubilang kau harus berangkat bersamaku?” ungkapnya ketus.
“Maaf.” Hanya itu yang dapat aku katakan setelah beberapa saat terdiam.
Saat lampu hijau menyala bagi para penyeberang jalan, ia menggandeng tanganku tanpa ragu, seperti yang ia lakukan selama kurang lebih 12 tahun ini.
zzz
Ia berdiri setengah langkah di depanku, tepat di sampingku. Tangannya menggenggam tanganku erat.
Aku selalu menatapnya setiap kali ia membantuku menyeberang, karena aku tidak perlu melihat jalan saat dituntun olehnya. Aku memandangi wajahnya yang hanya terlihat sedikit, dan rambut raven yang sangat ‘khas’ dia, yang terlihat sangat serasi dengan kedua mata tajamnya yang seperti mata elang itu.
Ia selalu seperti ini. Melindungiku, tapi cenderung berlebihan. Mungkin aku dianggapnya sesuatu yang sangat rapuh dan mudah hancur berkeping-keping, atau mudah luruh oleh sapuan angin.
Dan aku sangat tidak suka itu.
Aku melepas genggamannya dengan agak kasar setelah kami sampai di seberang jalan. Kupikir ia akan marah padaku yang tidak tahu terima kasih telah dibantu menyeberang lalu meninggalkanku begitu saja. Ternyata aku salah, ia malah menarik sudut bibirnya sedikit sambil menoleh ke arahku. Lebih parahnya lagi, ia malah merangkul pundakku.
Rasanya seperti ada sesuatu yang merambat dari tangan yang disandarkannya di bahuku, lalu menjalar ke sekujur tubuhku. Hangat. Aku merasa sangat nyaman dirangkulnya seperti ini. Semua kekesalanku atas perlakuan overprotektifnya menguap.
Andai saja sikapnya akan selalu hangat seperti ini. Tapi aku yakin, itu hanya pengharapanku saja. Ia akan berubah menjadi Uchiha Sasuke, siswa teladan di sekolah dengan otak jenius dan segudang penghargaannya, yang sangat terobsesi untuk melakukan semua hal dengan sempurna, sangat serius, tidak menyenangkan seperti sekarang. Ia juga akan menjelma menjadi sosok dingin seperti makhluk yang tak dapat disentuh.
Dan benar saja, ia mulai menunjukkan sikap seperti orang mau berubah wujud, selayaknya Superman atau superhero lainnya. Tangannya perlahan turun dari pundakku, jaraknya pun menjauh dariku. Sikapnya sudah mulai formal.
‘Saatnya untuk berubah, Uchiha?’ sindirku dalam hati. Aku tidak pernah berani mengatakannya. Entah kenapa saat sikapnya sudah menjadi formal seperti itu aku merasa ia sangat asing bagiku, bukan Sasuke-ku.
“Kau hati-hati, ya.” Pesannya dengan suara sangat pelan, tapi masih sanggup diterima telingaku dengan baik.
Ya, seperti biasa, ia akan berpesan seperti itu sebelum mempercepat langkahnya mendahuluiku beberapa meter.
Semakin dekat gedung sekolah, semakin jauh jarak kami.

zzz
“Kau hati-hati, ya.” Pesan kakakku sambil mengacak-acak rambutku. Walaupun sakit, ia tetap memaksakan seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Dalam matanya yang gelap itu kulihat kecemasan, kesedihan, kehancuran, tapi juga harapan dan semangat yang meluap. Kakak akan meninggalkanku di pondok terpencil ini. Sendirian.
Aku hanya menggigit bibirku kuat-kuat, sampai nyaris berdarah, hanya agar air mataku tidak tumpah. Bibirku bergetar, disusul dengan guncangan bahuku dan gejolak air bening di pelupuk mataku.
Aku yakin kakak tak sanggup menatapku seperti itu. Ia langsung menarikku ke dalam dekapannya, membenamkan wajahku di dadanya, dan membelai rambutku penuh kasih sayang.
“Aku menyayangimu, Hinata. Aku akan lakukan apapun demi kebahagiaan dan keselamatanmu. Karena kau adalah milikku satu-satunya, maka aku akan menjagamu sekuat yang aku mampu. Ingatlah selalu, Hinata, kau adalah adikku yang paling aku sayangi. Selamanya.” Ucapnya. Sangat panjang untuk ukuran kakakku yang selama ini pelit kata-kata.
Mendengarnya, tangisku pecah. Aku menangis sesenggukan di dadanya. Bajunya pasti akan sangat basah. Tapi sepertinya ia tak akan ambil pusing.
“Aku yakin kau akan sanggup bertahan. Begitu juga aku. Kita akan sanggup melewati ini semua.” Ujarnya lagi, mencoba meredakan tangisku.
Entah berapa lama aku menangis seperti itu. Yang jelas, saat aku menarik kepalaku, aku melihat baju kakak sangat sangat basah.
“Hahaha, kau ini cerdik sekali ya, Hinata. Menunda-nunda kepergianku dengan membuat bajuku basah kuyup seperti ini. Aku jadi harus ganti pakaian dulu. Hahaha.” Ia malah tertawa. Padahal aku kan baru saja berhenti menangis.

zzz
“Sepertinya kau sangat bahagia ya saat bersama Naruto tadi. Kau bisa tertawa sangat lepas, aku bahkan belum pernah melihatmu tertawa seperti itu.” Kata Sasuke malam hari di teras rumahku setelah sorenya kami kerja kelompok di rumah Naruto.
“Ah, oh, eh, itu… ya, kau tahu kan aku sangat suka naik ayunan.” Jawabku agak gugup, terkejut mendengar pernyataannya.
“Aku senang melihatmu sebahagia itu. Lain kali tertawalah seperti tadi.”
“Oh, euh, itu tadi kan hanya untuk menghabiskan waktu menunggumu dan teman-teman yang lain.”
“Bagaimana kalau kapan-kapan kau pergi bersamanya? Kupikir kau butuh senang-senang. Naruto pasti akan menjagamu dengan baik, walau mungkin tak sebaik aku.” Usulnya.
‘Kenapa tidak kau saja yang mengajakku pergi? Aku juga pasti akan sangat bahagia bersamamu. Sangat bahagia.’
“Hah, begini saja aku sudah bahagia kok.” Ujarku sambil melempar senyum.
“Yah, terserahlah. Yang jelas, yang kuinginkan adalah kau bahagia.” Ujarnya pelan, kepalanya menengadah memandang langit malam yang saat itu cukup terang.
Mataku mengikuti arah matanya, menatap permadani hitam di atas sana yang bertaburkan jutaan bintang kecil berkelap-kelip. Langit malam adalah kesukaanku dan Sasuke. Kami betah duduk diam berjam-jam memandangi langit malam tanpa berkata sepatah pun.
Sasuke lah yang membuatku jatuh cinta pada langit malam. Pertama kalinya aku merasa sangat nyaman duduk di bawah naungan warna kelam adalah saat aku masih di bangku Taman Kanak-Kanak, kurang lebih 12 tahun yang lalu.
Aku mengenal Sasuke, anak lelaki yang tinggal di rumah yang berseberangan dengan rumahku. Tapi kami benar-benar seperti tidak saling kenal walaupun sekelas. Ia anak yang sangat pendiam, sementara aku yang pada dasarnya sangat pemalu tidak bisa memulai percakapan apapun dengannya. Biasanya teman-temanku lah yang mengajakku bermain. Dan Sasuke bukan orang-orang yang seperti itu. Jadi kami benar-benar tidak pernah berbicara satu sama lain.
Tapi segalanya berubah mulai siang hari itu. Aku yang baru saja pulang dari TK ku yang tidak jauh dari rumah bingung melihat rumahku dipadati orang-orang. Sebagian besar tetanggaku, dan mereka semua tampak muram. Ibu Sasuke yang melihatku langsung memelukku erat. Aku dapat merasakan bahunya berguncang dan napasnya tertahan, seperti sedang menahan tangis.
“Ada apa, Tante?” tanyaku polos. Aku sama sekali tidak dapat menduga apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu.
“Hinata, tante membuat makan siang yang sangat enak. Sekarang Hinata makan siang di rumah tante, ya?” ajaknya, sama sekali bukan jawaban pertanyaanku tadi.
Aku yang benar-benar bingung hanya mengangguk polos. Kemudian Tante Mikoto melepas pelukannya lalu meraih tanganku, membimbingku ke rumahnya.
Sasuke sudah ada di meja makan saat itu. Cepat sekali ia berjalan tadi, bahkan ia sudah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah. Ia duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan dan memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti, terdiam dengan peralatan makan yang masih kosong.
“Sekarang duduklah di sini. Tante akan mengambil makanannya dahulu.” Ujar Tante Mikoto setelah membimbingku duduk di kursi yang berhadapan dengan putranya. Lalu ia menghilang di balik tirai biru ke ruangan lain yang sepertinya dapur.
Sasuke masih saja memandangiku tanpa rasa tidak enak. Justru aku yang merasa tidak enak dipandangi seperti itu. Aku mengaitkan jemari kedua tanganku di bawah meja, saling menggenggam dengan erat.
Untunglah tante Mikoto tidak lama meninggalkan kami. Ia kembali membawa nampan besar berisi makanan-makanan yang dari baunya saja sudah sangat lezat.
Aku dan Sasuke sudah siap makan dengan makanan di hadapan kami. Tapi tante Mikoto belum juga mengambil makanan untuknya.
“Tante tidak makan?” tanyaku heran.
“Oh, iya, iya.” Jawabnya gugup. Ia langsung mengambil makanan untuknya.
Kebingunganku semakin menggunung saja saat itu. Ingin rasanya aku bertanya saat itu juga. Tapi mama dan papaku mengajarkanku untuk tidak berbicara saat makan. Jadi aku harus sabar menunggu sampai kami selesai makan. Lagi pula, aku yakin tante Mikoto akan menjelaskannya padaku.
Setelah makan, Tante Mikoto mengajakku ke taman belakang rumahnya. Lagi-lagi aku hanya bisa menurut.
“Hinata, bagaimana pelajaran di sekolah hari ini? Menyenangkan?” tanyanya setelah kami duduk di sebuah kursi panjang dari kayu di bawah pohon apel, menghadap ke sebuah kolam ikan kecil dengan gemericik air yang sangat menentramkan.
“Iya.” Jawabku singkat. Aku bingung mau menjawab atau berkata apalagi.
Untuk beberapa saat kami terdiam, sampai akhirnya aku mendengar senggukan kecil tante Mikoto yang coba disembunyikannya.
“Sebenarnya ada apa, Tante?” tanyaku. Aku yakin betul ada yang tidak biasa hari ini. Dan perasaanku berkata itu sesuatu yang buruk.
Bahkan sangat amat buruk.
“Hinata…” jawab Tante Mikoto menggantung. Ia melingkarkan tangannya di bahuku, pipinya di sandarkan di puncak kepalaku. “adalah anak yang baik, bukan?” lanjutnya.
Aku hanya mengangguk kecil, masih belum mengerti.
“Anak yang baik pasti ingin agar orang tuanya bahagia, bukan?”
Aku mengangguk lagi.
“Hinata…” ujarnya lagi, kali ini ia melepas rangkulannya dan mengangkat daguku, menatap mataku lurus-lurus. Tatapannya… tatapannya…
Sedih, iba, sayang, harapan, dan.. entahlah. Rasanya banyak emosi tertuang dalam mata hitamnya yang begitu dalam.
“Orang tuamu sedang berbahagia sekarang. Mereka sudah berada di suatu tempat yang sangat indah.” Lanjut tante Mikoto.
Aku masih juga belum paham.
“Kemana? Mengapa Hinata tidak diajak?” tanyaku.
“Tempatnya sangat jauh dan tak terjangkau, Hinata. Sekarang belum saatnya kau kesana.”
“Tapi Hinata mau ikuut…! Hinata mau sekarang…! Hinata mau bersama mama dan papa…!” ujarku mulai merengek. Tiba-tiba saja air mataku menyeruak dan membentuk garis-garis sungai kecil di pipiku.
Bukan, bukan karena aku merasa mama dan papa begitu jahatnya sampai tidak mengajakku. Aku tahu pasti mereka tidak akan senang-senang sendiri tanpaku. Aku menangis karena aku mulai mengerti.
Aku benar-benar sendiri sekarang.
Tempat yang sangat jauh dan tak terjangkau, dimana belum saatnya aku berada di sana…
Aku mulai menangis kencang. Tante Mikoto memelukku erat, sangat erat seakan aku akan ambruk bila dilepasnya.
Tapi mungkin ia benar. Aku belum bisa berdiri sendiri.
“Bagaimana? Bagaimana itu bisa terjadi? Kapan?” tanyaku dengan napas tersengal-sengal menahan tangis sejenak untuk bicara.
“Beberapa jam yang lalu. Orang tuamu sedang pergi untuk menyiapkan kejutan untukmu. Tapi tiba-tiba saja mereka kecelakaan. Sekarang mereka sedang dibawa ke sini. Nenekmu juga sebentar lagi akan datang. Jangan bersedih, Hinata. Kami semua ada untukmu.” Jawab Tante Mikoto sambil membelai rambut pendekku dengan sangat lembut, selembut suaranya.
Kejutan? Yah, kejutan untuk hari ulang tahunku. Aku genap 5 tahun hari ini, hari dimana orang tuaku pergi.
Malam hari setelah upacara pemakaman orang tuaku usai, aku diajak Tante Mikoto ke rumahnya lagi. Aku dan nenekku -yang mulai malam itu akan tinggal bersamaku- makan malam di rumah keluarga Uchiha.
Setelah makan malam, nenek berbincang-bincang dengan Paman Fugaku dan Tante Mikoto. Aku hanya diam saja mendengarkan mereka berbincang-bincang.
“Sasuke, kemarilah. Ajak Hinata main,” panggil Tante Mikoto.
“Main? Malam-malam begini?” Tanya Sasuke dari ruang tv.
“Ajak Hinata nonton tv denganmu,” ralat Tante Mikoto.
Beberapa saat kemudian Sasuke datang.
“Hinata, ikutlah dengan Sasuke nonton tv,” ajak Tante Mikoto.
Aku hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Sasuke yang kembali ke ruang tv.
Selama beberapa menit kami terdiam memandangi layar televisi berukuran besar yang sedang menayangkan berita itu. Sasuke tampaknya lebih suka menonton acara berita di channel khusus berita itu daripada acara-acara lain yang lebih menghibur.
Tiba-tiba saja mataku terpaku pada layar kaca itu. Berita kecelakaan. Walaupun bukan tentang kecelakaan orang tuaku, tetap saja membuatku membeku di tempat. Tanpa sadar aku mencengkeram lengan sofa kuat-kuat.
BLEP! Layar itu tiba-tiba gelap. Tangan Sasuke masih memegang remote saat aku menoleh padanya.
“Maaf,” ujarnya. Itu kali pertama ia berbicara denganku. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya, “Ayo ikut denganku,” ajaknya.
Aku hanya terbengong melihatnya. Karena tidak sabar, Sasuke meraih tanganku dari lengan sofa. Ia membuka genggamanku yang sangat erat itu dengan cukup mudah, lalu menggantinya dengan tangannya. Kini aku menggenggam tangannya dengan erat.
Ia mengajakku ke lantai dua rumahnya, lalu terus berjalan ke arah balkon. Di balkon itu ada sebuah teropong bintang.
Ia sibuk mengamati langit yang malam itu cukup cerah dengan teropong bintangnya. Setelah beberapa detik berkutat dengan teropong itu, ia menoleh padaku. Tanpa berbicara ia menyuruhku melakukan hal yang sama dengannya barusan.
Aku melihat langit melalui lensa teropong bintang yang sudah diarahkan oleh Sasuke. Melalui lensa itu, sebuah bintang yang sangat cantik terlihat lebih jelas.
Hatiku benar-benar tenang melihatnya. Kesedihan dan kepedihan hatiku sedikit terobati.
Mulai malam itu, aku menyukai langit malam.

zzz
 
Aku masih menangis memeluk lutut di atas sebuah papan kayu yang menjadi alas tidurku malam ini. Suasana sangat senyap, hanya suara tangisku yang memecah keheningan malam dengan iringan jangkrik di luar sana. Aku dan kakak melarikan diri dari pusat kota. Tempat kerusuhan yang begitu dahsyat. Kami melarikan diri sangat jauh, jauh sekali. Entah sudah berapa minggu aku dan kakak menjauhi pusat kota, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya kakak memutuskan untuk tinggal di sini.
Di tengah hutan.
Aku tidak tahu ada pondok kecil di tengah hutan ini. Tapi kakak yakin mengajakku ke pondok itu. Ternyata benar, sore tadi kami sampai di pondok yang akan kami tinggali ini setelah berhari-hari tersesat.
Pondok kecil ini dibuat untuk tempat beristirahat saat ayah berburu dulu. Kakak juga baru pertama kali ke tempat ini dengan mengandalkan secuil kisah dari bibir ayah beberapa tahun yang lalu.
Pondok ini sangat tidak terawat, dan begitu menyeramkan. Benar-benar di tengah hutan belantara yang aku tak tahu berapa luasnya. Belum lagi binatang buasnya.
“Jangan khawatir. Kita aman di sini,” ujar kakak menenangkanku.
“Aman dari musuh, tapi tidak aman dari binatang buas,” sergahku kesal.
“Bersabarlah, Hinata. Nanti kau juga akan nyaman tinggal di sini. Setidaknya, aku sudah terlatih untuk menghadapi binatang buas, tapi aku belum cukup mampu melawan kerajaan musuh!” bentak kakakku.
Aku menangis lagi.
“Maaf,” ujarnya melembut. Ia menyodorkan tangannya padaku, mengajakku pergi.
“Kemana? Ini sudah malam,”
“Justru itulah, karena ini sudah malam,” jawabnya sambil menarik tanganku.
Di tengah padang kecil di belakang pondok itu, kakak menengadahkan kepalanya. Aku mengikuti gerakannya.
Begitu mempesona. Langit di sini terlihat lebih jelas. Ribuan bintang berwarna-warni sangat kontras di langit yang gelap. Daun-daun dari pohon besar di sekeliling kami seperti pigura yang membingkai keindahan itu.
“Terima kasih, Kak. Ini…. Sangat…. Luar biasa!” ucapku terbata.
Kakak merangkul pundakku dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
Krusakk… krusukk… tiba-tiba aku mendengar suara rumput yang terinjak di belakangku. Tubuhku menegang.
“Kyaaa…!!” aku memeluk kakakku sesaat setelah aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh kakiku.
Kakakku tertawa, tubuhnya berguncang-guncang.
“Mengapa tertawa? Ada sesuatu yang menyentuh kakiku!” omelku.
“Itu hanya rubah kecil, Hinata,” jawab kakakku.
Aku melepas tanganku yang melingkari leher kakakku, lalu pelan-pelan berbalik ke sumber keributan itu.
Sepasang mata jernih menatapku. Lalu ia berkedip manja.
Melihat mata itu, ketakutanku luruh, berganti perasaan sayang. Rubah ini begitu menggemaskan. Warnanya oranye dengan bulu kuning di puncak kepalanya. Tatapannya begitu polos. Kalau aku tidak penakut, pasti aku sudah membawanya dalam pelukanku. Tapi, aku takut. Bukan karena binatang itu, tapi memang biasanya aku agak takut dengan binatang.
Kakak segera mengangkat binatang itu dan menggendongnya.
“Lucu, bukan?” tanyanya.
Aku mengangguk, tapi masih belum berani menyentuhnya.
Kakak menurunkan rubah itu lagi, lalu mengajakku masuk karena udara sudah mulai menggigit.
“Tunggu, lalu bagaimana dengan rubah itu?” tanyaku.
“Dia akan baik-baik saja. Rumahnya memang di hutan,” jawab kakakku.
“Oh… tapi apa boleh ia diajak main ke pondok kita? Kurasa kita masih punya sedikit makan untuk dibagi pada hewan mungil yang sepertinya kelaparan ini,” bujukku.
Kakakku memutar bola matanya tapi akhirnya berkata,”Baiklah.”
Setelah itu, aku mulai merasa nyaman. Hidup di pondok itu tidak selamanya buruk.
Esoknya, aku ikut kakak berburu di hutan. Ternyata pondok kami tidak benar-benar di tengah hutan, jadi sangat jarang bertemu binatang buas. Kami berburu agak dalam ke hutan, lalu kembali membawa buah-buahan dan seekor kelinci hutan.
Kami berburu bersama rubah itu. Rubah itu sepertinya sendirian, jadi ia mengikuti kami. Aku senang melihatnya mengejar tikus-tikus hutan, lalu kembali dengan mimik puas.
Dalam waktu cukup singkat aku sudah benar-benar merasa nyaman dengannya. Aku tertawa-tawa bermain bersama rubah itu.
“Kau cocok juga jadi Tarzan,” komentar kakakku sambil menarik sudut kiri bibirnya.
“Habisnya dia lucu sekali,” ujarku sambil menimangnya manja.
“Aku senang melihatmu sebahagia itu. Lain kali tertawalah seperti tadi.”
“Kalau begitu, bisakah kita memeliharanya?” tanyaku.
“Well, aku tidak tahu juga. Mudah-mudahan tidak ada ibu rubah yang mencari anaknya yang hilang,” godanya.
“Uugh, nanti kalau dia datang nikahi saja, biar rubah ini jadi anak tirimu,” balasku.
“Hahaha, bagaimana kalau yang datang ayahnya yang duda? Apa kau  siap menjadi ibu tirinya?” balas kakakku lagi.
“Aaargh! Ya sudah, nanti kita kembalikan kalau memang ia masih punya orang tua!” ujarku menyerah.
“Hahaha. Baiklah, yang kuinginkan adalah kau bahagia.” Ucapnya. Tiba-tiba mimiknya menjadi serius. “Apa kau bahagia di sini?” tanyanya.
Aku terdiam beberapa saat, tahu kalau pertanyaan kali ini serius. “Hmm, aku selalu bahagia bersama kakak,” jawabku dengan sungguh-sungguh.
Tapi sepertinya kakak tidak menangkap kesungguhanku. Ia berpikir aku hanya menenangkannya saja.
“Bersabarlah, Hinata. Kita akan kembali lagi,” ucapnya pelan lalu segera berlalu tanpa bisa aku cegah.


Continue...

Next : Reborn [Part 3]
Tag : ,

Reborn [Part 1]

By : Unknown
Fan Ficiction Anime Naruto

Cast : Uchiha Sasuke, Hinata, Naruto
Genre: Romance, Fantasy, Family
Summary:
Kau tahu, mengapa aku tertegun melihat benda itu? Benda yang terpajang di ruang tamu rumah megah itu. Benda yang tampak sangat sakral (bagi sebagian orang), dan tentunya… mahal. Benda yang… mirip sekali, miriiip sekali dengan… Benda yang telah membunuh hampir seluruh keluarga besarku. MEMBUNUH-HAMPIR-SELURUH-KELUARGA-BESARKU
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kau tahu, mengapa aku tertegun melihat benda itu?
Benda yang terpajang di ruang tamu rumah megah itu.
Benda yang tampak sangat sakral (bagi sebagian orang), dan tentunya… mahal.
Benda yang… mirip sekali, miriiip sekali dengan…
Benda yang telah membunuh hampir seluruh keluarga besarku.
MEMBUNUH-HAMPIR-SELURUH-KELUARGA-BESARKU.
Hingga hanya aku dan kakakku yang selamat.
Hingga kami hanya hidup berdua.
Hingga kakakku berjuang mati-matian untuk hidup kami.
Hingga… kakakku pergi. Untuk mencari pekerjaan. Untuk mencari uang, agar kami bisa tetap hidup.
Di tengah keadaan genting pasca runtuhnya kerajaan kami, di tengah keributan yang terjadi di tubuh kerajaan kami, di tengah kerusuhan, kejahatan, tawa bengis dan air mata rakyat kami, kakakku pergi. Dan menyuruhku tetap tinggal di sebuah pondok kecil di tengah hutan.
Sendiri.
Bukan dalam kurun waktu harian, mingguan, atau bulanan. Tapi tahunan. Aku hidup sendiri di tengah hutan selama bertahun-tahun.
Sampai akhirnya kakakku muncul dengan pakaian kebesarannya, dan membawaku ke istananya yang baru.
Di kerajaan yang baru. Yang jauh dari kerajaanku sebelumnya yang telah diduduki oleh orang-orang yang telah MEMBUNUH-HAMPIR-SELURUH-KELUARGA-BESARKU.
DENGAN BENDA ITU. Salah, mungkin, benda yang MIRIP dengan benda itu.
zzz
“Hey, kau sedang lihat apa? Sampai melamun seperti itu.” Tiba-tiba sebuah suara dan tepukan halus di bahu kananku menarikku kembali ke alam nyata. Masa sekarang.
“Oh, eh, itu… aku… aku hanya kagum sekali dengan benda ini. Antik sekali kelihatannya.” Jawabku dengan agak gugup karena masih terkejut.
“Oh, benda ini. Ya, benda ini memang tampak antik. Tapi ini palsu kok, cuma replikanya aja. Benda yang aslinya usianya sudah beberapa abad. Tapi replikanya sendiri juga sudah tua, lebih tua dari kakekku setidaknya. Ayahku sangat suka mengoleksi benda-benda antik. Coba kau lihat ke sana.” Ujarnya sambil menunjuk ke sebuah arah. Mataku mengikuti arah yang ditunjuknya.
Benar saja, di sebuah ruangan yang berada di sebelah ruang tamu dan hanya disekat oleh lemari pajangan besar yang memiliki dua sisi, kulihat banyak sekali benda-benda kuno (ada replika benda benda bersejarah, ada juga benda-benda kuno asli) yang mengisi sebagian besar ruangan itu. Tak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri, seperti benda yang kupandangi tadi. Usianya pun beragam. Mulai dari puluhan tahun sampai ratusan tahun. Tapi semakin tua benda itu, semakin sedikit jumlahnya.
Aku mendekati benda-benda itu dan menyentuhnya dengan sangat hati-hati. Mataku tak lepas dari mengamati detil-detil setiap benda yang kusentuh. Tepatnya benda-benda yang berasal dari zaman kerajaan. Masaku hidup dulu.
Tunggu, masaku hidup dulu?
“Hinata, kau juga tertarik dengan benda-benda antik begituan?” Tanya Naruto, yang sejak tadi menungguku yang sedang larut dalam perasaan aneh yang ditimbulkan benda-benda kuno ini.
“Eh, maaf. Ya, aku menyukainya. Maaf, sekarang kita kemana?” tanyaku malu. Tujuanku datang ke rumah Naruto sebenarnya untuk kerja kelompok.
“Ayo kita ke taman belakang. Di sana suasananya lebih enak daripada di sini, entahlah, aku merasa agak-agak gimana gitu kalo melihat benda-benda yang usianya bahkan lebih tua dari usia kakekku. Auranya menakutkan.” Katanya dengan mimik tak suka pada benda-benda di ruangan ini.
“Hahaha.” Aku tertawa melihat ekspresi takut+sebal yang tergambar jelas dari wajah dan matanya.
“Ayolah Hinata, kita mulai saja kerja kelompoknya.” Katanya sambil menarik tanganku dan membawaku ke taman belakang rumahnya.
“Rumahmu sepi sekali, Naruto.” Komentarku. Tak kulihat keluarganya, hanya beberapa pembantunya yang berseliweran mengerjakan tugas masing-masing.
“Memang, tapi karena ada Hinata, jadinya menyenangkan.” Jawabnya santai.
Pelan-pelan aku melepas pegangan tangannya, mulai risih dipegang seperti itu. Lagipula, kecil kemungkinan aku terjatuh, karena tidak ada batu yang biasanya menyandung kakiku.
Taman belakang rumah Naruto sangat indah. Kolam ikan yang berisi banyak ikan berwarna-warni, air terjun buatan di salah satu sisi kolam yang menimbulkan gemericik air yang sangat menentramkan, tanaman-tanaman hias yang cantik dan tersebar di seluruh taman, juga ada ayunan yang menggantung di sebuah pohon besar. Ayunan yang tempat duduknya dari kayu dan talinya dari tali tambang besar yang menggantung kuat di sebuah dahan pohon yang menjulang kokoh segera menarik perhatianku.
Melihatku memandangi ayunan itu, Naruto menawariku. “Kau mau naik ayunan sambil menunggu yang lain datang?”
“Eh, apa boleh?” tanyaku tak enak.
“Tentu saja. Silakan naik. Aku yang mendorong ayunannya.” Kata Naruto.
Tanpa menunggu lama-lama, aku langsung naik ayunan itu. Naruto berjalan ke belakangku dan mendorong ayunan itu.
Naruto menarik ayunan itu jauh ke belakang, lalu mendorong dengan cukup kuat. Akhirnya aku terayun dengan sangat kencang. Dadaku berdesir, tapi aku tertawa senang. Rambutku yang hanya kujepit dengan jepitan kecil mulai berantakan dimainkan angin. Naruto tertawa senang melihatku. Semakin kencang saja dia mendorong ayunan yang kunaiki ini.
Kami tertawa keras bersama-sama, walaupun tawa kerasku hanya berupa cengiran lebar tanpa suara, dan pekikan-pekikan kebahagiaanku tak sekencang teriakannya yang bersorak-sorak gembira.
Lalu muncul seseorang dari balik pintu yang kami lalui saat menuju taman belakang ini.
Seorang lelaki seusia kami, yang mengenakan kaus berkerah dan berlengan pendek warna hitam dan celana jeans gelap sedang berdiri diam dengan santai. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya. Rambutnya yang berantakan teronggok di atas kepalanya, di atas wajah luar biasa tampan miliknya. Mata elangnya menatap kami, lalu membuang ke arah kolam ikan indah itu.
“Berhenti, Naruto. Sasuke sudah datang.” Ucapku. Tapi suaraku yang kalah dengan suara tawanya tak terdengar.
“Naruto! Sudah!” teriakku dengan suara sekeras mungkin. Akhirnya Naruto mendengar, lalu berhenti mendorong ayunan. Ia segera menghampiri Sasuke.
“Hey!” sapa Naruto sambil mengangkat tangannya mengajak high five, tapi seperti biasa Sasuke mengacuhkannya lalu berjalan menuju gazebo.
“Ayo kita mulai kerja kelompoknya!” ajak Sasuke, yang lebih terdengar seperti perintah.
“Tapi kan Sakura dan Choji belum datang. Mana bisa kita mulai?” tanya Naruto.
“Tentu saja bisa. Nanti mereka menyusul saja.” Jawab Sasuke santai. Setibanya di gazebo, ia langsung duduk dan mengeluarkan laptop dari tasnya. Naruto duduk di sebelahnya, sementara aku menyusul beberapa saat kemudian karena tadi harus memberhentikan ayunan dengan kakiku dulu.
“Aku sudah punya naskahnya. Aku juga sudah menentukan siapa pemerannya. Kita tinggal latihan saja.” Kata Sasuke yang kemudian mengeluarkan tiga bundel kertas. Sebuah diberikannya pada Naruto, sebuah padaku, dan sisanya ia pegang sendiri.
“Seperti biasa, aku jadi sutradaranya. Tapi karena pemain terbatas, aku juga ikut main dalam drama ini.” ujarnya santai.
“Tapi Sasuke, apa tidak lebih baik kalau kita rundingkan dahulu ceritanya?” tanyaku pelan, takut sebenarnya.
“Tidak. Lebih baik begini. Apa kau masih meragukan kemampuanku membuat naskah?” tanyanya tak suka.
“Bu-bukan begitu. Maaf.” Jawabku takut. Wajahku tertunduk.
“Sudahlah, Hinata. Jangan merasa bersalah begitu. Aku tahu kau hanya khawatir jika di antara kelompok kita nantinya ada yang tak setuju, bukan? Begini saja, untuk urusan naskah, kita percayakan pada ketua klub seni ini. Dia kan jawara menulis naskah drama.” Ujar Naruto lembut menenangkanku.
“Lebih baik sekarang kalian baca dulu naskahnya. Selami karakter yang kalian mainkan.” Kata Sasuke –yang lagi-lagi terdengar seperti perintah– padaku dan Naruto. Sementara kami membaca naskah itu, ia menyalakan laptopnya dan sibuk sendiri. Aku tak tahu apa yang ia lakukan, karena ia duduk berhadapan denganku dan laptop yang mengarah padanya membelakangiku.
Aku tak bisa konsentrasi membaca naskah yang ada di tanganku. Diam-diam mataku melihat ke arah orang di hadapanku ini. Sasuke sedang serius mengetik sesuatu. Mungkin naskah-naskah yang lain, atau mungkin novelnya. Calon penulis berbakat ini memang kudengar sedang menggarap novel perdananya. Selama ini ia hanya menulis cerpen, puisi, dan naskah drama yang sudah banyak memenangkan berbagai perlombaan menulis.
“Kau sudah selesai membaca, Hinata? Kenali dan resapi karakter yang kau mainkan, jangan bengong saja.” Tegur Sasuke tiba-tiba. Matanya yang tajam tak lepas dari layar laptop berwarna hitam kesayangannya yang merupakan hadiah dari salah satu lomba yang dimenanginya.
Aku buru-buru meneruskan kegiatanku membaca. Bahkan selesai membaca naskahnya pun belum, apalagi untuk mendalami peran.
“Haaaiiii….!!!” Suara seorang perempuan yang sudah sangat aku hafal terdengar di belakangku. Disusul bunyi ‘krauk-krauk’nya Choji yang pasti sedang mengunyah cemilannya.
Sakura dan Choji langsung ikut bergabung dengan kami. Kemudian Sasuke memberikan dua bundel kertas naskah untuk mereka berdua. Samar, kulihat mata Sasuke sedikit bersinar. Entah berkilat marah karena mereka datang terlambat atau berbinar karena kedatangan Sakura. Ya, sudah sejak lama aku meyakini kalau cowok yang aku taksir sejak kecil ini menyukai bunga sekolah kami. Walaupun tak ada yang percaya karena Sasuke tampaknya tak peduli pada gadis manapun, tapi aku tetap meyakininya.
Aku tetap yakin, karena aku mengenal Sasuke lebih lama dari siapapun di sekolah kami.
zzz
Continue…

Next Part : Reborn [Part 2]

Cr. https://fan3less.wordpress.com
Re-post. https://bubblepop632.blohspot.com
Tag : ,

Kata Yang Sering Digunakan Otaku

By : Unknown


Shota                     : seorang bocah yang memiliki wajah yang imut
Ikemen                  : cowok dewasa yang tampan
Loli-con                : ketertarikan pada seorang gadis
Pedo                      : kepanjangan dari Pedofilia, orang yang suka dengan bocah.
Ani-con/Ani-com : orang/gadis yang suka pada kakak laki-lakinya atau senior laki-lakinya
Sis-con                  : Orang/Laki-laki yang suka pada kakak perempuannya atau senior perempuan nya.
Stalker                 : orang yang sangat nge-fans pada seseorang akhirnya menyelidiki orang tersebut sampai hidup pribadinya
Tsundere               : seseorang yang sebenarnya galak, tapi dalamnya baik hati (sebgian besar cewe)
Yandere           : karakter dengan mental yang tidak stabil, awalnya baik, bisa tiba2 jadi psikopat dan menunjukkan kekerasan
Yangire                  : mirip sama Yandere, tapi kalo ini hanya emosinya saja yang meledak
Kuudere                : karakter yang tak punya ekspresi (flat)
Dandere                : Karakter yang penuh ekspresi
Yaoi                       : jenis anime bergenre homoseksual yang udah R18
Shounen Ai           : jenis anime bergenre homoseksual yang sekedar menunjukkan cinta
Fujoshi/Fudanshi : penggemar genre Yaoi dan Shounen Ai (fudanshi itu cowo, kalo fujoshi cewe)
Yuri                       : jenis anime bergenre bisexual yang udah R18 *sama sperti diatas
Shoujo Ai             : Jenis anime bergenre bisexual yang sekedar menunjukan cinta
Seiyuu                   : pengisi suara tokoh anime
Tankoubon            : manga yang diterbitkan perjilid, pada awalnya muncul di majalah komik Jepang
Doujinshi/Doujin : cerita/komik pendek yang dibuat oleh fans dari anime yang sudah ada
SD                         : Singkatan dari Super Deformed, yang artinya gambar yang dibuat dengan size yang sekerdil-kerdilnya tapi proporsi tubuh tetap pas
Chibi                    : sama seperti SD, tapi Chibi proporsi kepala lebih besar dibanding badan dan gambarnya terkesan cute, sering digunakan di Doujinshi
FanFic                : singkatan dari Fan Fiction yang artinya cerita berupa tulisan yang dibuat oleh fans anime yang sudah ada
FanArt                 : gambar yang dibuat oleh para fans anime yang udah ada
FanService      : komik panel/gambar yang dibuat tidak sesuai dengan alur cerita tapi bertujuan untuk memuaskan pembaca
Mecha                 : sering muncul di anime Gundam, yaitu genre robot, penyempitan dari kata Mechanical
OVA/OAV       : format anime yang tidak ditayangkan di TV tapi dijual bebas dengan format video di pasaran, singakatan dari Original Animated Video/Original Video Animation
Cross-Over         : persilangan dua anime atau lebih, sering dijumpai di Doujinshi
Cosplay           : atau disebut (Costume Play) meniru karakter tokoh anime tertentu mulai dari riasan, kostum, perlengkapan sampai adegan pertarungan
Baka                     : Bodoh/idiot
Yon Koma            : komik 4 panel, contohnya K-on!
Mahou                  : Sihir/magic, sering dijumpai dalam anime/manga bergenre fantasi
Moe                      : suatu karakter anime/sesuatu yang bikin kita gemes
Kawaii                  : Cute, Cool, dsb. ._.
Ahoge                   : Sehelai dua helai rambut yang menjulang ke atas
Fetish                   : minat/kesukaan pada hal tertentu misalnya Kagamine Rin di Fear Garden yg mengalami ‘hand fetish’
Tsurupeta             : istilah ‘flat’ di tubuh cewe… alias rata *dorrrrrrr*
Petanko                : karakter cewe dengan tubuh loli alias rata *lagi*
Meronko : kebalikan yang diatas (kalok gak ngerti bayangin aja tsunade xDDDD)
Seme/Uke         : istilah dalam anime Yaoi, Uke sebagai karakter penerima (diserang), sedangkan Seme sebagai penyerang.
Nijikon                : singkatan dari Nijigen Complex/2D Complex, orang yang hanya tertarik/terobsesi pada suatu karakter anime
MAD               : video remix kreatif yang dibuat oleh para fans dari suatu Ending atau Opening alias parodi yang biasanya digabungkan dengan musik atau video lain, kadang2 ditambahkan dengan efek2 lain
Omake             : gambar corat-coret atau kata terakhir dari pengarang tankoubon
Hikikomori   : orang yang mengisolasi diri dari kehidupan sosial dan memilih menghabiskan waktu dengan diam didalam rumah
Guro              : anime yang menampilkan adegan horor yang sadis seperti mutilasi, potong sana, potong sini… *tapi banyak yang suka termasuk sayaaa xD*
Tokusatsu         : sering digunakan untuk menyebut film fantasi/sci-fi, contohnya Ultraman
Otomen            : Banci
Harem              : suatu adegan dimana seorang karakter cowo yang dikelilingi banyak karakter cewe
Hentai              : Anime ber genre untuk dewasa .__. (Rating 17+)
Ecchi/Ero        : lebih ringan dibanding yang diatas, tujuannya… fanservice.



Ada tambahan lain? mungkin anda bisa tambahkan di komentar^^


View my 2nd Blog at https://luthfiahhasna55.wordpress.com

Sankyu^^
Tag : ,

Arti dari Otaku

By : Unknown


Otaku adalah golongan pecinta anime jepang yang tidak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak untuk melakukan hobi mereka. Otaku biasanya menjadi sumber informasi tentang produk-produj yang berkaitan dengan anime. Dalam bahasa jepang “otaku” artinya adalah anda atau kamu. Bagi otaku membeli sebuah komik, anime, game dan barang-barang anime lainnya adalah hal yang harus dimiliki.
Di jepang otaku memiliki image yang kurang baik, hal ini dikarenakan mereka sering dimarginalkan dari masyarakat tempat mereka tinggal. Karena hal tersebut akhirnya mereka memilih untuk menghindar dari orang banyak dan merahasiakan bahwa diri mereka adalah otaku.
Beberapa tahun terakhir, ada sebuah perubahan yang cukup besar terjadi dengan otaku. Mereka sekarang lebih berani untuk menunjukkan dirinya sebagai otaku. Dalam dunia marketing, keberadaan otaku dianggap sangatlah penting. Otaku merupakan core customer yang berkotribusi banyak terhadap profit perusahaan.

Otaku berperan sebagai sumber informasi yang penting terhadap barang-barang anime yang dijual, dan efeknya sungguh luar biasa. Dimana pada tahun ini sudah banyak warga luar negeri yang menjadi konsumen anime. Tentu saja hal ini membuka sebuah pelung bisnis yang baik untuk perusahaan anime.
Untuk membedekan antara otaku dan non-otaku itu cukuplah mudah. Pertama perhatikan cara berpakaian mereka, secara umum otaku akan sering memakai kameja panjang dan dikancing hingga yang paling atas, mmebawa tas gendong, memakai sepatu sneaker, ikat kepala, dan mereka juga sering membawa kantung kertas. Mereka sering membentuk komunitas sesama otaku di suatu daerah.



Cr :https://tnbflash.wordpress.com
Re-post : https://bubblepop632.blogspot.com

View my 2nd Blog at https://luthfiahhasna55.wordpress.com

Sankyu^^
Tag : ,

Ansatsu Kyoushitsu (TV)

By : Unknown
Status: Not Yet Aired
Tipe: TV Series
Producers: FUNimation Entertaiment
Episode: ?
Tanggal Rilis: 10 Januari 2015
Genre: Action, Comedy, School, Shounen, Supernatural
Durasi: 23 Menit ±

 Anime yang rilis pada tanggal 10 Januari ini memang menarik, dengan berbagai teka teki yg membuat anda penasaran, Anime ini berhasil membuat Otakku di Indonesia menyukainya..

Sinopsis
Sebuah cerita lucu dan penuh aksi tentang kelas yang mencoba untuk membunuh guru baru mereka, sebuah gurita alien dengan kekuatan aneh dan kekuatan super! Guru baru itu sudah menghancurkan bulan dan mengancam untuk menghancurkan bumi juga, kecuali murid-muridnya bisa menghancurkan dia dulu. Apa yang membuat hal-hal yang lebih rumit adalah bahwa ia adalah guru terbaik yang pernah mereka milik..
Tag : ,

Absolute Duo

By : Unknown

Nama :アブソリュート・デュオ
Tipe  : TV
Total Episode : 12
Producers : FUNimation Entertainment, 8bit
Mulai Rilis : 4 Januari 2015
Status : Ongoing
Genre : Supernatural, Action, School, Ecchi, Romance,Harem
Durasi : 24 menit per episode

               Absolute Duo adalah salah satu Anime yang baru rilis tahun 2015. Realese pada 4 Januari 2015, Anime Ber-genre Supernatural, Action, School, Ecchi,Romance, dan Harem ini lumayan digemari para Otakku di Indonesia. Tapi karena masuk kategori Ecchi, mungkin sebaiknya di download hanya untuk yang cukup umur. hehe..

Sinopsis Cerita dimulai dengan Blaze, sebuah senjata yang merupakan perwujudan dari jiwa manusia, seorang anak cowok bernama Tooru Kokonoe memiliki kualifikasi untuk memiliki sebuah Blaze, tapi entah kenapa Blaze milik Tooru adalah sebuah Tameng, bukan sebuah senjata seperti umumnya seperti pedang atau yang lain, selain itu dia masuk ke sebuah sekolah yang mengajarkan bagaimana cara bertarung dan oleh karena sistem peraturan partner Duo, dia akhirnya tinggal dengan seorang cewek berambut perak.

Tag : ,

Resep Kue Kaca Mata

By : Unknown

 Kali ini saya akan memberitahukan Resep Kue kacamata. Sebutan kue ini di Jawa Barat adalah Putri No'ong, Sedangkan di Jawa Tengah adalah Moto Kebo tetapi Hanya terdiri dari satu buah pisang bersalut saja.


Silahkan Mencoba ^-^
 
Bahan :
- 2 Buah pisang tanduk yang tua, kupas.
- 500 gr. singkong, parut
- 100 gr. gula pasir
-1/4 butir kelapa muda, parut
-1/4 sdt. vanili
-1/4 sdt. garam
- Pewarna kue
-1/4 btr kelapa agak muda, parut, kukus dengan 1/4 sdt. garam, kurang lebih  10 menit supaya lebih tahan lama.

Cara membuat :
  • Campur singkong parut, parutan kelapa muda, gula, vanili dan garam, uleni sampai rata dan gula larut. bagi menjadi 3 bagian, masing masing diberi warna.
  • Ambil 1 lebar daun pisang, letakkan kurang lebih 3 sdm. adonan singkong di tengahnya, beri 1 bh pisang yang utuh, tutup kembali dengan adonan. Buat satu lagi dengan cara yang sama, letakkan di sebelahnya.
  • Bungkus 2 bh pisang bersalut adonan singkong menjadi satu.
  • Kukus sampai matang kurang lebih 1 jam. Angkat, dinginkan.
  • Potong melintang setebal 1 cm, gulingkan pada kelapa parut, dan hidangkan.
Ket :
Bila tidak ingin menggunakan pewarna, tambahkan irisan gula merah kurang lebih 200 gr. kue akan berwarna kecoklatan.


Selamat mencoba :))

Tag : ,

- Copyright © Star Imagination - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -